artikel untuk maria ku…
Thursday March 20th 2008, 3:36 am
Filed under: renungan jiwa

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

Bagaimana rasanya jika keceriaan, kebugaran, masa depan nan
gilang gemilang hilang dalam sekejap? Siapapun manusianya tentu akan terpukul-terpuruk,
apalagi jika penyebab "kehilangan" itu adalah penyakit.

 

Pasti dibutuhkan kekuatan diri yang besar untuk melawan rasa
tak berdaya akibat itu. Merenda hari demi hari, bak menyusun kembali pot
porselen harapan yang telah berserak. Tragisnya lagi, jika vonis yang
diturunkan begitu kejam, "tidak bisa sembuh".

 

Maka alangkah kagumnya pdpersi.co.id manakala bertemu dengan
seorang lelaki bernama Reza Fahlevi. Usianya mendekati 37 tahun. Semua yang
tampak padanya adalah optimisme, positif thinking, sense of humor yang tinggi,
walau tetap rasional.

 

Padahal di dalam tubuhnya, dia mengidap Lupus Eritematosus
Sistemik (LES-red). Penyakit yang hingga kini belum ada obatnya, yang membuat
para penderitanya memiliki ketergantungan tinggi pada orang lain.

 

Penyakit otoimun ini, membuat pula para penderitanya
kehilangan kebugaran tubuh dan selalu bersiap akan keadaan lemas, demam, sakit
kepala, pegal-pegal, mengalami gangguan pernapasan, nyeri seluruh tubuh,
kebotakan, dan masih banyak lagi. Tapi yang paling mengerikan adalah
kecenderungan kehilangan harapan untuk hidup bersaing dengan manusia lain.

 

Kondisi ini pernah dialami Pak Reza –begitu kami
menyebutnya saat mendengarkan penuturannya untuk bangkit dari keterpurukan.
Cerita sarat humor walau mengenai hal pedih, cerita yang disampaikan pada
pdpersi.co.id, di sore nan teduh, di kawasan Kalimalang ujung, Selasa (20/2).

 

Nyaris Menikah

 

Wajar jika sense of humor yang tinggi dipelihara penderita
Lupus. Sebab, sedikit saja mereka kena stress, maka penyakitnya akan kambuh.
Bukan cuma itu, humor dan iman mungkin menjadi amunisi ampuh bagaimana melihat
hidup ini penuh warna. Bukan satu warna, buram…

 

Reza mengenang, sesaat sebelum dirinya divonis terkena
lupus, banyak sudah harapan yang ia renda untuk masa depannya. Karirnya sebagai
auditor di Badan Pengawasan Keuangan Pembangunan Perwakilan Sumatera Selatan
cukup cemerlang, sehingga dipromosikan untuk sekolah lagi ke Jepang. Belum lagi
rencana menikah yang sudah di gerbang mata. "Anaknya baik, berjilbab,
tinggi, manis," kenang Reza tanpa memberitahu nama mantan kekasihnya.

 

Pun, Reza aktif dalam berbagai kegiatan olahraga yang memang
merupakan hobinya. "Saya bisa tenis, naik gunung, tenis meja, basket,
volley, dan lari. Makanya orang yang dulu tahu saya, mungkin heran melihat
kondisi saya sekarang," ujarnya.

 

Karena itu, manakala vonis lupus ditimpakan di pundaknya,
Reza seolah mendapat pukulan telak. Karirnya buyar, walau status pegawai negeri
tetap disandangnya hingga kini. Hobinya untuk berolah raga, plus bersosialisasi
punah sudah.

 

"Perang batin" terbesar terjadi ketika delegasi
calon istrinya datang ke

Jakarta

(RSCM-red), tempat Reza dirawat. Demi kebaikan bersama, Reza memutuskan untuk
tidak meneruskan rencana pernikahannya. "Yah, mungkin itu yang
terbaik," cetusnya. Ia tak ingin istrinya kelak menderita akibat dia tak mampu
menghidupinya baik lahir maupun batin… Setelah peristiwa itu, kesunyian
menyergap Reza selama dua tahun.

 

Diagnosa Berubah-ubah

 

Titik penderitaan lelaki kelahiran Curup, Bengkulu, 3 Juni
1964 ini, adalah suatu hari di bulan Oktober 1996. Ketika itu, dia baru saja
pulang dari

Palembang

tempatnya bekerja, ke Curup. Seperti biasa, Reza menyetir sendiri perjalanan
lintas propinsi itu selama delapan jam. Yang tak biasa, selama seminggu di
Curup dia tak bisa memicingkan mata sedikitpun. "Teman saya begadang waktu
itu parabola," kisahnya.

 

Anehnya, lanjut Reza, meski tak tidur sedemikian rupa
matanya tak berubah merah. Hanya saja, dia merasa tak punya tenaga, bahkan
untuk sekadar mengangkat tangan saja. "Saya juga tak bisa ke belakang,
karena memang nggak ada yang keluar," ungkap Reza. Setelah diperiksa
dokter, diagnosisnya radang tenggorokan. Namun antibiotika yang diberikan, sama
sekali tak menolong keadaan.

 

"Akhirnya saya dirujuk periksa jantung, karena speed
jantung saya 120 permenit," ucap Reza. Diakuinya, dua tahun sebelum
peristiwa ini terjadi dia memang merasa kondisi fisik tubuhnya makin menurun
dari hari ke hari. "Tapi saya pikir itu biasa, karena faktor usia."
Gejala yang dialami ketika itu adalah mudah lelah, dan jika berbicara, cepat
kehabisan nafas seperti menderita asma.

 

Setelah pemeriksaan oleh dokter jantung, atas prakarsa
teman-teman, Reza dibawa ke rumah sakit. "Eh, diagnosanya beda lagi. Saya
dianggap kena TB paru, padahal hasil darah, dahak, liur saya negatif,"
ungkapnya. Tiga minggu lebih dia menginap di rumah sakit. Saat keluar rumah
sakit, kondisinya tak juga lebih baik. Sebagai ikhtiar, Reza sempat dibawa ke
"orang pintar", namun toh hasilnya juga nihil.

 

Akhirnya Reza terpaksa minum obat-obatan TB seperti
Ethambutol, Rimpafisin, dan INH. Ironisnya, INH adalah obat yang harus
dihindari penderita lupus karena dapat memperburuk kondisi tubuh. Alhasil,
kondisi Reza pun makin parah, sekujur tubuhnya membengkak. "Semua organ
tubuh saya mulai selaput jantung, paru, hati dan ginjal, kena radang. Panas
tubuh saya tak pernah kurang dari 38," cerita Reza.

 

Dia pun dibawa lagi ke rumah sakit. Kali ini diagnosanya
jantung dan paru terkena penyakit. Bahkan selaput jantungnya diisi air sebanyak
175 cc. Tatkala cairan itu disedot, yang keluar hanya darah. Setelah beberapa
penyedotan gagal, atas inisiatif kakaknya, Reza diboyong ke

Jakarta

.

 

Vonis Lupus

 

Datang ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Reza malah
batuk-batuk hingga mengeluarkan darah. "Tapi darah itu bukan dari paru,
melainkan dari tenggorokan," kenang Reza. Setelah dua minggu dirawat, Reza
dirujuk lagi ke Rumah Sakit Persahabatan. Di RS Persahabatan, nasibnya sama
saja. Tiga minggu menginap, tim medis Persahabatan angkat tangan.

 

Berobat jalan menjadi pilihan terakhir. Berjalan sebulan,
suatu sore Reza seakan tak bisa bernafas. Dia segera dilarikan ke RS Mitra
Keluarga Bekasi. Dan Tuhan berbaik hati, nyawanya tertolong melalui pemberian
oksigen. Suatu ketika, atas bantuan sanak keluarga Reza dibawa ke Prof Dr
Kisyanto (ahli jantung-red) di RS Cikini.

 

Karena tidak ada tim ahli untuk menangani penyakitnya di RS
Cikini, seminggu kemudian Reza di"tarik" ke RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Vonis Lupus Eritematosus Sistemik diterimanya setelah menginap di RSUPN-CM
selama dua minggu. Tentu saja Reza menyangkal, tiada angin tiada hujan,
penyakit yang sedemikian seram harus diterimanya. Apalagi mengingat
perbandingan antara penderita lupus lelaki dan perempuan 1:17. Tapi itulah
kenyataannya. Diagnosa lupus ini diterimanya Januari 1997.

 

Derita belum selesai, melalui hasil rontgen diketahui bahwa
selaput paru-parunya dipenuhi 3,4 liter air. "Bayangin aja, hidup dengan
3,4 liter air di dada, waduuuh…," serunya.

 

Yang menyedihkan, keluarganya seolah tidak menerima sakit
yang diderita Reza. Jadilah dia sendirian merenda hari di RSUPN-CM.
"Seminggu tak ada yang besuk, kayak apa rasanya itu!" kenangnya. Jika
kena serangan, keluarga menuding dirinya manja. Sekalinya ada yang datang,
yaitu delegasi dari calon istrinya yang minta kepastian. "Wah, berat betul
saat itu. Akhirnya demi kebaikan bersama, saya batalkan pernikahannya".

 

Map Primbon Warna Kuning

 

Seolah tak ada yang berpihak pada Reza selama dua tahun
pertama mengidap Lupus. Biaya pengobatan yang mencapai satu juta rupiah
perbulannya (untungnya Reza masih tercatat sebagai karyawan BPKP- red),
kenyataan tak bisa sembuh, beban mental akibat pandangan keluarga, status
sebagai laki-laki yang harus menjadi kepala keluarga, kemungkinan dipecat
sewaktu-waktu, asa-asa yang remuk redam, menghantuinya terus…

 

Tapi, toh Reza tak mau selamanya tenggelam dalam
keputus-asaan. Tahun 1999, selain menjadi PNS di BPKP

Jakarta

, dia pun bekerja di perusahaan milik
kakaknya. Namun beban kerja, tak sesuai dengan kemampuan fisik. Akhirnya,
pekerjaan di perusahaan sang kakak dia tinggalkan.

 

Dus, walau penyakit menderanya, Reza sempat menjalin
hubungan kasih dengan seorang wanita yang mirip dengan mantan kekasihnya dulu.
"Saya juga heran, kok dia mau sama saya," urainya disusul derai tawa.
Tapi, karena kedua pihak sadar diri, hubungan ini pun tak diteruskan.

 

Dan keajaiban datang manakala kakaknya yang bekerja di
Krakatau Steel, Hidayat Elwani, mengiriminya artikel-artikel luar negeri
mengenai penyakit lupus. Artikel ini satu persatu dikumpulkan, diterjemahkan,
dan dari sinilah semangat bangkit mendera jiwa Reza. Artikel yang disusun dalam
sebuah map berwarna kuning, seolah menjadi "primbon" bagi Reza.
"Saya masih punya chance," tegasnya setelah membaca seluruh artikel.

 

Senjata Ampuh Bernama "Semangat"

 

Begitulah Reza, hari-harinya kini dan di masa datang diisi
dengan asa- asa baru. Optimisme memancar dari matanya yang jenaka.
"Semangat harus tumbuh dari dalam diri kita sendiri," katanya yakin.
Chance selalu ada, tambahnya, soal sembuh atau tidak itu urusan Tuhan.

 

Untuk itu, Reza pun tak segan-segan datang ke "orang
pintar". Dia pun bercita-cita untuk aktif bergabung di yayasan-yayasan,
seperti Yayasan Lupus

Indonesia

(kini Reza tercatat sebagai anggotanya-red), atau yayasan anak terlantar.
"Minimal, kita bisa melihat masih banyak orang lain yang lebih menderita
dari kita," ucapnya.

 

Lupus, ujar Reza, harus diperlakukan sebagai pacar. Jika
dihadapi dengan marah-marah dan stres, maka akan membuat penyakitnya makin
parah. "Marah kita tak terlampiaskan, marahnya lupus menggerogoti badan
kita. Maka baik-baiklah sama lupus," ujarnya seraya tertawa. Kesabaran dan
obat teratur, ulas Reza, adalah jalan menuju remisi atau keadaan hilangnya
gejala.

 

Bagi Reza, kesempatan hidup ini adalah sesuatu yang
berharga. "Jangan sampai kehilangan semangat. Kita hidup, tapi percuma
jika di dalam diri, kita mati!" ujarnya tegas. Semangat inilah senjata
menghadapi vonis "tak bisa disembuhkan". Bak kata orang bijak,
"orang takut mati, adalah orang yang takut dalam hidupnya".

 

Dan Reza berdiri gagah menghadapi kehidupannya. Layaknya
seorang Arjuna dengan panah Pasopatinya, Reza kini, bersenjata "map
primbon warna kuning". Berisi cuplikan artikel yang sedikit demi sedikit
dikumpulkannya, laiknya menyusun asa yang dulu sempat terserak…



Ayat-ayat Cinta
Saturday March 15th 2008, 7:54 am
Filed under: romance

Bidadariku,

Namamu tak terukir

Dalam catatan harianku

Asal usulmu tak hadir

Dalam diskusi kehidupanku

Wajah wujudmu tak terlukis

Dalam sketsa mimpi-mimpiku

Indah suaramu tak terekam

Dalam pita batinku

Namun kau hidup mengaliri

Pori-pori cinta dan semangatku

Sebab

Kau adalah hadiah agung

Dari Tuhan

Untukku

Habiburrahman Saerozi
dalam ayat-ayat cinta…